Notification

×

Iklan

Iklan

Ketua JOIN Takalar Bahas Jurnalistik "Dari Ide Hingga Publikasi" di Kampus UIN Alauddin

12/21/25 | Minggu, Desember 21, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-21T02:48:52Z

Ketua JOIN Takalar Bahas Jurnalistik "Dari Ide Hingga Publikasi" di Kampus UIN Alauddin
 
Makassar (Sulawesi Selatan), dimensitivinews.com.
 
Di tengah derasnya arus informasi digital di mana kecepatan sering mengorbankan akurasi, kemampuan memilah fakta menjadi keterampilan vital bagi generasi muda. Kesadaran ini mendorong Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Alauddin Makassar menggelar pelatihan jurnalistik intensif bertajuk "Dari Ide hingga Publikasi" pada Kamis siang (18/12/2025), pukul 13.00 hingga 16.00 WITA.
 
Suasana Gedung FTK terasa berbeda dengan antusiasme mahasiswa yang mengikuti diskusi dinamis. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis menulis, melainkan upaya membangun benteng intelektual di tengah banjir informasi.
 
Hadir sebagai narasumber utama adalah Aimal Situru, S.Pd., M.Si – Komisaris Utama PT. Media Intar Indonesia sekaligus Ketua JOIN Takalar. Ia membawa perspektif praktisi dari industri media online, memulai paparan dengan realitas pahit: jurnalisme masa kini tengah terjebak dalam perlombaan tanpa akhir.
 
Aimal menyoroti fenomena "pemujaan kecepatan" yang sering menjadi berhala baru di media daring. Di era di mana jumlah klik menentukan napas dapur redaksi, banyak media mengabaikan proses verifikasi, sehingga informasi yang tersaji sering mentah, bias, dan mengandung kekeliruan fatal. "Media sosial saat ini layaknya pasar tumpah yang bising, di mana kebenaran tertimbun oleh narasi yang memancing emosi," ungkapnya dengan lugas.
 
Ia menegaskan: "Kecepatan memang penting, namun ketepatan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Menjadi yang pertama itu hebat, tapi menjadi yang benar itu terhormat."
 
Tema "Dari Ide hingga Publikasi" kemudian dibedah secara teknis namun naratif. Mahasiswa diajak memahami bahwa tulisan yang baik lahir dari kepekaan melihat fenomena sekitar, diperkuat riset mendalam, dan dikemas dengan bahasa yang menyentuh tanpa meninggalkan objektifitas.
 
Diskusi menjadi lebih dinamis ketika mahasiswa melontarkan kegelisahan tentang sulitnya membedakan fakta dan opini di media sosial – bukti dahaga akan literasi media yang sangat besar di kalangan mereka. Mereka menyadari bahwa kemampuan menulis bukan sekadar hobi, melainkan alat melawan pembodohan massa.
 
Kepala Program Studi MPI yang mendampingi berharap pelatihan ini menjadi pemantik awal lahirnya jurnalis baru dari rahim pendidikan Islam – yang tidak hanya pandai merangkai kalimat, tetapi juga memegang teguh integritas dan kejujuran.
 
Saat pelatihan berakhir pukul 16.00 WITA, semangat yang tertinggal masih kuat. Para mahasiswa meninggalkan ruangan dengan kepala tegak, membawa bekal pengetahuan bahwa di pundak mereka tertitip tugas penting: menjadi penjernih di tengah keruhnya arus informasi digital demi Indonesia yang lebih cerdas dan beradab.
 
(Arfah Adha Mansyur)
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update