Pemdes Amansari Gelar Peringatan Isra Mi’raj dan Sambut Ramadhan 1447 Hijriah, Warga Antusias Hadiri


Pemdes Amansari Gelar Peringatan Isra Mi’raj dan Sambut Ramadhan 1447 Hijriah,  Warga Antusias Hadiri
 
Karawang (Jawa Barat), dimensitivinews.com

Pemerintah Desa Amansari, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan penyambutan bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung di kediaman pribadi Kepala Desa diikuti antusias oleh tokoh agama, perangkat desa, ibu-ibu majelis taklim, dan masyarakat sekitar.


Suasana kekhidmatan terasa sejak awal acara, yang menjadi agenda rutin Pemdes Amansari untuk memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan sosial.
 
Kepala Desa Amansari, Hanapi, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan tersebut. Menurutnya, peringatan Isra Mi’raj bukan sekadar seremonial, melainkan momentum refleksi untuk meningkatkan keimanan dan akhlak masyarakat.
 
“Kegiatan ini memperkuat ukhuwah Islamiyah serta mempererat hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat. Terlebih, menjadi pengantar spiritual dalam menyambut Ramadhan,” ujar Hanapi.
 
Ia juga mengapresiasi kehadiran penceramah K.H. Hilman Mubarok alias Roma Muda dari Sukabumi, berharap tausiyah yang disampaikan dapat menjadi bekal warga dalam menjalani kehidupan dengan nilai keislaman.
 
Dalam ceramahnya, K.H. Hilman Mubarok menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan hak prerogatif Allah SWT dan hanya terjadi karena kemuliaan Rasulullah sebagai manusia pilihan.
 
“Isra Mi’raj adalah perjalanan agung yang tidak mungkin ditempuh manusia biasa. Itu hanya bisa terjadi pada manusia agung yang diagungkan oleh Allah SWT,” ungkapnya.


Penceramah tersebut menjelaskan dua alasan utama terjadinya peristiwa tersebut. Pertama, akibat perseteruan antara langit dan bumi yang masing-masing merasa paling hebat, hingga akhirnya terbukti bahwa bumi memiliki mutiara tak ternilai berupa Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman dalam hadis qudsi Laulaka, laulaka, lama kholaqtul aflak.
 
Alasan kedua, lanjutnya, karena Isra Mi’raj terjadi pada tahun Aamul Huzni, ketika Rasulullah ditinggal wafat oleh pamannya Abu Thalib dan istri tercinta Siti Khadijah binti Khuwailid.
 
“Siti Khadijah adalah sosok wanita luar biasa yang seluruh harta, tenaga, dan hidupnya diabdikan untuk perjuangan Rasulullah,” ujarnya dengan nada haru.
 
Peringatan Isra Mi’raj berlangsung khidmat dan penuh makna, sekaligus menjadi ajang silaturahmi serta pengingat bagi warga untuk menyambut Ramadhan dengan meningkatkan iman, memperbaiki akhlak, dan memperkuat kepedulian sosial.
 
(Ganda)