Notification

×

Iklan

Iklan

Mappalili Labakkang 2025: Harmoni Tradisi dan Harapan di Bumi Pangkep

11/16/25 | Minggu, November 16, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-16T14:18:25Z

Mappalili Labakkang 2025: Harmoni Tradisi dan Harapan di Bumi Pangkep
 
Pangkep (Sulawesi Selatan), dimensitivinews.com.

Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, kembali menjadi saksi bisu dari lestarinya tradisi agraris yang kaya makna. Pada Minggu, 16 November 2025, ritual Mappalili digelar dengan khidmat dan meriah, menandai dimulainya musim tanam serta memohon berkah kesuburan bagi sawah adat yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.


Sejak dini hari, suasana khusyuk telah terasa di sekitar Balla Lompoa, rumah adat yang menjadi pusat kegiatan ritual. Para pinati (tokoh adat) memulai persiapan setelah menunaikan salat Subuh, memastikan setiap detail acara berjalan lancar. Kehadiran Camat Labakkang, Bahri, S.E., M.M., bersama istri tercinta, Dra. Ratna Ningsih, M.M., serta Ketua Lembaga Adat Andi Sukri Karaeng Ramma, dan ketua panitia Andi Sihab Noer Rahmat Karaeng Sitonra, menambah semangat dan dukungan bagi kelangsungan tradisi ini.


Tepat pukul 05.30 WITA, rombongan Mappalili yang dipimpin oleh Karaeng Sialloa dan ketua pinati memulai perjalanan sakral menuju sawah adat di Desa Manakku. Barisan terdepan diisi oleh para pinati yang kharismatik dan pembawa pagi (sesaji), simbol persembahan kepada Sang Pencipta. Di belakang mereka, rombongan ketua pinati dan panitia berjalan dengan langkah mantap, diikuti oleh Karaeng Sialloa yang memancarkan aura kepemimpinan. Para pembawa perlengkapan ritual dan pasukan Badik Selebes yang gagah berani melengkapi barisan, sementara personel Polsek dan Danramil Labakkang sigap mengamankan jalannya prosesi.


Suara gendang yang bertalu-talu mengiringi langkah rombongan sepanjang perjalanan sekitar 600 meter menuju sawah adat. Irama tradisional ini bukan hanya sekadar musik, tetapi juga doa dan harapan yang dipanjatkan kepada alam semesta. Sesampainya di lokasi, seekor kerbau telah disiapkan untuk membajak sawah, menandai dimulainya musim tanam secara simbolis.


Salah satu momen yang paling dinanti adalah perebutan seikat padi yang dibawa dalam ritual. Masyarakat berdesakan untuk mendapatkan berkah dari hasil bumi ini, sebagian harus dikembalikan ke Balla Lompoa untuk diperebutkan kembali. Ratusan warga dari berbagai kalangan usia turut menyaksikan seluruh rangkaian acara, menunjukkan kecintaan dan kebanggaan mereka terhadap tradisi Mappalili.


Setelah prosesi turun sawah selesai, Karaeng Sialloa, ketua pinati, dan ketua panitia kembali ke Balla Lompoa. Camat Labakkang beserta istri menerima ritual yang diserahkan oleh ketua pinati, sebagai simbol penerimaan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian tradisi. Ketua pinati dan Karaeng Sialloa kemudian menuju ruang khusus untuk melakukan ritual pengembalian benda pusaka ke tempat semula, disaksikan oleh camat dan istri. Ritual ini merupakan ungkapan syukur atas berkah yang telah diberikan dan harapan agar tradisi Mappalili terus lestari di bumi Pangkep.


Mappalili bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga cerminan dari kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kesuburan tanah dan melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Semoga Mappalili Labakkang 2025 membawa berkah dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Pangkep.

(Andi Ahmad Karaeng Baso)




TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update