LEMTANA, Inovasi BPBD Tana Toraja Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Lembang
TANA TORAJA (SULAWESI SELATAN), DIMENSITIVINEWS.COM
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tana Toraja mendorong penguatan kesiapsiagaan masyarakat melalui inovasi **LEMTANA (Lembang Tangguh Bencana)**.
Inovasi tersebut diangkat Sekretaris BPBD Kabupaten Tana Toraja, **Marinus Mellolo, S.T.**, sebagai aksi perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan III Tahun 2026 yang diselenggarakan Balai Besar Pengembangan Kompetensi APDN IV Makassar.
LEMTANA dirancang untuk memperkuat sistem penanggulangan bencana hingga tingkat lembang atau desa. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, memperkuat kapasitas dan koordinasi, menyediakan data serta informasi kebencanaan yang lebih terorganisir, sekaligus mempercepat respons ketika terjadi bencana.
Aksi perubahan tersebut mulai dilaksanakan pada 19 Agustus 2026 dan ditargetkan rampung pada 9 Oktober 2026.
Dalam tahap awal, **Kecamatan Rantetayo** dipilih sebagai lokasi pengembangan *pilot project*. Tiga lembang menjadi lokasi pembentukan LEMTANA, yakni **Lembang Madandan, Lembang Tonglo, dan Lembang Tapparan Utara**.
Pembentukan LEMTANA melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI dan Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah lembang, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan perempuan, dunia usaha, serta pemangku kepentingan terkait.
Program tersebut kemudian dilaunching oleh Bupati Tana Toraja pada **21 September 2026** di Aula Kantor Kecamatan Rantetayo. Kegiatan tersebut dihadiri unsur TNI dan Polri, perangkat daerah terkait, Camat Rantetayo, pemerintah enam lembang/kelurahan beserta aparatnya, Tim LEMTANA, serta tokoh masyarakat.
Melalui pembentukan LEMTANA, kondisi penanggulangan bencana yang sebelumnya belum terkoordinasi secara optimal diharapkan menjadi lebih terstruktur. Data dan informasi kebencanaan juga dapat dikelola secara lebih baik sebagai dasar dalam mengambil langkah penanganan.
Selain itu, kapasitas masyarakat dan relawan diharapkan semakin kuat sehingga mampu mengambil peran dalam menghadapi potensi maupun kejadian bencana di wilayah masing-masing.
Koordinasi antara BPBD, pemerintah kecamatan, pemerintah lembang, masyarakat, dan pemangku kepentingan juga menjadi salah satu fokus utama. Dengan koordinasi yang terintegrasi, penanganan bencana diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan responsif.
Inovasi LEMTANA menjadi bagian dari aksi perubahan Marinus Mellolo dalam PKA Angkatan III Tahun 2026. Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembentukan kelembagaan, tetapi dapat menjadi model penguatan penanggulangan bencana yang dapat dikembangkan di lembang lainnya di Kabupaten Tana Toraja.
Dengan semakin kuatnya kesiapsiagaan di tingkat paling dekat dengan masyarakat, LEMTANA diharapkan mampu memperkuat kehadiran sistem penanggulangan bencana sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
(Burhanudin Dullahi)


